Wednesday, 29 July 2009

SELEBOR

S E L E B O R
A. Latar Belakang dan Orientasi Garapan
Seni merupakan aktivitas manusia dalam menciptakan suatu karya yang dapat menggugah perasaan manusia dan menimbulkan kepuasan sendiri. Perkembangan tari dari masa ke masa semakin meningkat, oleh sebab itu pada saat ini dan nanti akan sangat diperlukan kemampuan seniman-seniman khususnya mahasiswa seni Tari, untuk menggarap atau menciptakan sebuah karya tari agar dapat dipergunakan untuk kepentingan pribadi, pendidikan, maupun untuk masyarakat luas, pada umumnya dalam dunia tari di kenal istilah Tradisi, Kreasi dan Kontemporer. Dalam proses penggarapan tari di Indonesia. Istilah Koreografi telah dikenal. Koreografi merupakan istilah yang relative baru dalam dunia tari Indonesia dikenal sekitar tahun 1950-an. Istilah koreografi diambil dari bahasa Inggris Choreogeraphy. Kata tersebut berasal dari dua kata Yunani, choros yang berarti tarian bersama atau koor dan grapho yang artinya tulisan atau catatan, sehingga koreografi bisa diartikan sebagai pengetahuan penyusunan tari.
Karya tari “Kontemporer” adalah tarian garapan baru yang tidak terikat dengan bentuk tradisi tarian lainnya, bukan tari yang bersifat tradisi keraton atau kerakyakyatan yang ada di Indonesia, bukan juga sebuah upacara adat, bukan pula tari latar yang biasa kita lihat di televisi pada umumnya, hingga saat ini pengertian “Tari Kontemporer” masih membingungkan untuk kalangan tertentu, mereka menganggap “Tari Kontemporer” identik dengan gerak-gerak yang menggunakan tenaga yang penuh dengan gerak-gerik kayang, cium lutut dan lain-lain. Padahal Ada juga yang beranggapan “Tari Kontemporer” tidak mesti seperti itu.
Istilah “Kontemporer” betul-betul menjadi perbincangan dunia Seni Tari Indonesia, sementara makna dan cakupan defenisinya tidak pernah didiskusikan secara diskursif. Akibatnya, pengertian “Tari Kontemporer” cenderung disederhanakan sebagai sebuah istilah yang terlanjur popular, dan berada di antara dua kutub : yaitu semua karya seni tari yang bukan untuk komsumsi hiburan popular, namun secara bentuk juga bukan termasuk seni tari tradisional yang bersandar dari pakem-pakem yang sudah berlaku lama.
Penjelasan diatas memunculkan suatu ide untuk menggarap sebuah karya tari yang diberi judul “ S E L E B O R “. Tari ini merupakan bentuk gerak dan ekspresi yang berdasar dari gerak gerak tari perang. Kata selebor diambil dari pemahaman masyarakat tentang gerak yang mirip dengan orang mabuk. Orientasi garapan dalam karya ini adalah Tari kreasi berpijak dari gerakan-gerakan kontemporer.
B. Dasar Pemikiran
Sebuah karya tari bagi peñata tari di pakai untuk menyampaikan suatu ide atau gagasan. Karya tari merupakan salah satu alat untuk berkomunikasi secara estetis. Subtansi dasar tari adalah gerak dan irama. Pengertian gerak di sisi adalah bukan gerak yang realistis, melainkan gerak yang telah di beri bentuk, ekspresi dan telah mengalami pengembangan gerak, yang kemudian dipadukan dengan musik.
Gagasan awal yang menjadi pemikiran piñata tari dalam garapan karya tari yang berjudul “SELEBOR” ini ialah mencoba mengambil ide dari cerita cerita perang yang ada di Sulawesi selatan. Ide ini kemudian dieksplorasi segala kemungkinan pengembangan tema, gerak, dan sebagainya.
Hasil eksplorasi tersebut kemudian dicoba membuat karya tari Kontemporer yang bersumber dari gerak-gerak perang dan kemudian dikembangkan menjadi gerak-gerik Komikal atau ke arah Satire.
1. Konsep Garapan Tari
a. Tema : Militerisme dan Kedisiplinan
Dalam suatu karya tari tema merupakan hal yang menjadi patokan bagi seseorang koreografer untuk melangkah pada proses selanjutnya. Koreografer mengangkat tema “Militerisme dan Kedisiplinan” ini didasarkan pada keinginan peñata tari untuk memperagakan gerak gerak baris sampai pada peperangan.
b. Judul : SELEBOR
Judul merupakan sesuatu yang dapat memberikan gambaran tentang hal-hal yang ada dalam tarian. Karya ini diberi judul “SELEBOR” Kata tersebut diambil dari pemahaman masyarakat tentang istilah, yakini gaya atau gerak-gerik orang mabuk yang tidak beraturan. Gerak “SELEBOR” Sangatlah kontras dengan gerak-gerik militer yang harus rapi dan berdisiplin. Paradoks antara kedisiplinan yang menjadi tuntutan militer dan gaya orang “SELEBOR” menjadikan gerak-gerik dalam komposisi tari ini mengarah kepada Tari komikal, dan bahkan ada kea rah satire.
c. Dasar Pemikiran (Premise)
Tidak ada sebuah keberhasilan tanpa disiplin yang ketat, namun disiplin yang berlebihan kadang menghilangkan rasa kemanusiaan manusia yang menyeretnya menjadi sebuah mesin atau robot.


d. Tipe Tari : KOMIKAL
Dalam garapan ini tipe tari yang di gunakan yaitu Komikal dimana tipe tari ini membawakan cerita atau lakon dimana lakon tersebut diperagakan oleh penari dimana setiap karakter peran digambarkan melalui ekspresi gerak tari yang lucu.

e. Mode Penyajian : Representasional dan Simbolik
Dalam garapan karya tari yang berjudul “SELEBOR” menggunakan 2 (Dua) mode penyajian, yakni representasional maksudnya karya tari ini di sajikan apa adanya dengan cirri-ciri gerak yang mudah ditebak apabila dilakukan, misalnya gerak memungut sampah,kelelahan dan lain-lain, dan secara “Simbolis” disajikan hanya berupa simbol-simbol saja yang tidak memiliki arti dan makna khusus di dalamnya hanya semata-mata memperlihatkan keindahanya semata atau nilai estetisnya saja dengan kata lain bahwa penari melakukan gerak-gerak yang sulit ditebak oleh penonton apabila dilakukan.

f. Konsep Iringan
Musik merupakan pelengkap tari. Musik yang akan mengiringi suatu tarian harus disesuaikan dengan suasana apa yang ditampilkan dalam garapan tari tersebut. Mengingat karya tari yang berjudul “SELEBOR” ini merupakan tari komikel yang penonjolannya berada pada gerak gerak yang lucu beda dengan gerak semestinya sehinngga menggunakan iringan musik Tanjidor, Tambur, Recorder, dll. Sebagai ciri dari musik iringan tari tersebut.

g. Konsep Tata Teknik Pentas
Pentas adalah suatu bagian yang diperlukan untuk berlangsungnya suatu pementasan dalam seni pertunjukan, karena di sanalah gerak dan laku seorang pemain/penari mengatur posisinya dan membentuk suatu komposisi yang berarti dan dinamis.
Tata teknik pentas merupakan aspek pendukung dalam garapan tari yang sangat menunjang suasana yang akan dihasilkan, Beberapa kelangkapan yang harus diperhatikan di atas panggung, seperti :

1) Panggung
Tempat dan ruang memiliki peranan penting untuk suatu pertunjukan, karena di tempat atau ruang itulah suatu bentuk tari disajikan dan diekspresikan, Pementasan karya tari “ SELEBOR” ini dilakukan di atas panggung model Proscenium (Bingkai Gambar) atau Pendopo, yakni suatu bangunan yang relative besar berbentuk segi empat tanpa dinding, di mana penonton dapat melihat/menyaksikan pementasan dari depan maupun dari sisi kiri-kanan panggung.

2) Dekorasi (Setting)
Untuk penataan warna latar belakang panggung pada dasarnya merupakan suatu tatanan warna yang harus disesuaikan dengan suasana yang diinginkan pada garapan tarinya,sehingga tatanan warna latar belakangnya akan semakin menopang suasana pada tiap-tiap ragamnya.
Adapun warna latar belakang panggung (dekor) yang dipakai dalam garapan tari “ SELEBOR” yaitu hitam ( back droup) disesuaikan dengan warna kostum yang digunakan yaitu warna putih.

3) Tata Teknik cahaya ( Lighting)
Tata teknik cahaya merupakan suatu hal yang tak kalah pentingnya dalam suatu garapan tari, tata cahaya dapat memberikan gambaran tentang suasana yang diekspresikan ke dalam gerakan-gerakan tari sehingga dapat dimengerti oleh penonton.
Untuk lebih jelasnya tata cahaya yang di pakai guna mendukung suasana dalam
Garapan karya tari yang berjudul “ SELEBOR” ini, yakni sebagai berikut:

a. Bagian Introduksi
Pada bagian introduksi ini yaitu penari lari masuk dengan suasana gemuruh yang menandakan peperangan dengan memakai tata cahaya Spotligh yang gunanya untuk memperjelas suasana tersebut (lampu remang-remang). Dan pada saat penari tiarap lampu yang digunakan adalah lampu sudut berwarna merah.

b. Bagian Klimaks
Pada bagian ini suasananya senang dan rebut menandakan suasana perang dengan memakai lampu General Light yang gunanya untuk memperjelas gerakan-gerakan yang dilakukan oleh semua penari yaitu ekspresi penari yang saat jalan dan berbaris.

c. Bagian Akhir
Pada bagian akhir suasananya gembira dengan tata cahaya yang di pakai adalah Spotlight posisi penari yang berada di tengah perlahan-lahan di buat jadi gelap kemudian penari masuk kembali dan berbaris dengan senjata ditembakkan ke atas.

h. Jumlah Pendukung Tari
Karya tari yang berjudul “SELEBOR” ini peñata tari menggunakan 5 (lima) penari putra yaitu 1 (satu) Orang penari yang berperan sebagai pimimpin atau komandan barisan dan 4 (empat) orang penari laiannya yang menari sebagai pasukan pasukan “SELEBOR” serta 4 (empat) orang pemusik 1 (satu) diantaranya masuk sebagai penari. (Daftar pendukung tari lihat lampiran 2).

i. Tata Busana
Penataan busana tari harus tidak mengganggu ruang gerak penari. Desain dan warna baju yang akan dipakai penari harus dipilih berdasarkan pertimbangan bentuk,sudut kepraktisan dan efisiensi penggunaan penyajian serta pertimbangan Lighting,tentang bagaimana pencahayaan dapat memberikan efek warna tertentu yang dapat mendukung dan membangung suasana yang diinginkan kepada penonton. Adapun busana yang digunakan dikenakan oleh penari dan pemusik dalam karya tari yang berjudul “ SELEBOR” ini yaitu:
a. Busana Penari
1. Baju kemeja warna putih
2. Celana pendek warna putih
3. Selempang dan ikat pinggang kain bludru hitam yang diberi hiasan
4. Sepatu Laras
5. Topi hitam yang diberi hiasan
(untuk lebih jelasnya dapat dilihat di lampiran 9 foto busana)
b. Busana Penari dan sebagai pemusik
1. Baju lengan panjang warna putih dengan dasi kupu-kupu hitam
2. Sarung hitam berbentuk rok
3. Topi merah berbentuk kerucut
(untuk lebih jelasnya dapat dilihat di lampiran 9 foto busana)

c. Busana Pemusik
Pemusik tidak menggunakan busana khusus hanya menggunakan baju kaos kecuali yang masuk sebagai penari.
(untuk lebih jelasnya dapat dilihat di lampiran foto busana)

j. Tata Rias
Tata rias yang digunakan oleh penari yang berperan sebagai prajurit adalah rias yang lucu seperti rias pantonim sedangkan penari yang berperan sebagai pemusik adalah rias seperti badut.

k. Properti : Senapan yang dari kayu
Mengingat tema tari adalah “Kemiliteran” maka properti utama yang digunakan dalam karya tari “Selebor” ini adalah Senapan yang terbuat dari kayu dimana property tersebut sesuai dengan isi cerita dari karya tari ini.

l. Rangsang
Berdasrkan tema dan judul dari karya tari ini, maka rangsang yang digunakan yaitu rangsang kinestetik yaitu peñata tari membuat karya tari komikal dimana geraknya bukan gerak-gerak militeristik yang tegas dan disiplin distilisasi menjadi gerak-gerak “SELEBOR”, kadang kacau dan kadang satire.

2. Tujuan dan Sasaran
a. Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan karya tari ini adalah untuk mengembangkan kebudayaan dan mengangkat citra seni tari serta memperkenalkan gerak gerak dasar tari perang yang ada di Sulawesi Selatan.

b. Sasaran
Sasaran pembuatan karya tari ini adalah untuk menambah pembendaharaan karya tari komikal di Sulawesi Selatan

A. Metode dan Teknik Penerapan Konsep Garapan Tari
Kemampuan seorang peñata tari dalam menyusun sebuah karya tari diperlukan pengetahuan dan pengalaman yang cukup tentang seni menata tari diperlukan pengetahuan dan pengalaman yang cukup tentang seni menata tari. Selain itu dibutuhkan cara yang baik untuk diterapkan dalam proses menggarap suatu karya tari. Adapun tuntunan dalam garapan tari yang telah diwujudkan adalah mempergunakan pengalaman penyusun.
Berkenaan dengan hal tersebut di atas, maka penyusun memakai buku Eksplorasi Seni dan Improvisasi Seni karena buku ini sangat berperan penting dalam garapan tari ini.

B. Tahap-tahap Penggarapan
Adapun tahap-tahap penggarapan yang dimaksud adalah langkah-langkah yang perlu ditempuh selama berlangsungnya penataan karya tari ini. Dalam proses kerja tersebut harus melalui suatu tahap-tahap seperti brikut ini:

1. Eksplorasi
Eksplorasi atau penjajakan adalah tahapan awal seniman untuk melihat, membayangkan, merasakan, dan menanggapi melalui kepekaan inderawi serta sanubarinya berfikir,berimajinasi, merasakan dan menaggapi serta merespon dari suatu objek untuk dijadikan bahan dalam karya tari,dalam pembuatan karya tari ini eksplorasi didapatkan melalui pengamatan langsung di tempat mulai dari ekspresi mencoba mencari dan memperaktekkan gerak yang semestinya dan sesuai dengan konsep baik itu dengan cara berjalan, berlari, berbaring bahkan berguling, dimana proses ini berlansung didalam ruangan dan di luar ruang bahkan peñata mencari gerak gerak dengan menonton film yang menceritakan tentang kemiliteran dan kemudian mencoba merasakan bagaimana perasaan dari apa yang telah ditonton.

2. Improvisasi
Menurut Halilintar Lathief” “Improvisasi” adalah variasi yang timbul saat kita melakukan sesuatu, atau ilham yang dating sekonyong-konyong ketika sedang mengutarkan sebuah konsep yang telah di siapkan sebelumnya. Sebuah hasil spontanitas.
Improvisasi ini sifatnya spontanitas,akan tetapi tidak didalam suatu garapan tari improvisasi harus dilakukan sesuai konsep yang telah dibuat sehingga tidak mengurangi mutu tarian.Untuk itu dalam penggarapan tari ini diharapkan tidak lepas dari konsep yang telah ada sebelumnya sehingga ketika penari salah atau lupa dengan gerak yang ada mereka akan mampu melakukan gerak gerak yang halus agar kesalahan tidak terlalu kentara.

3. Komposisi
Tahap Komposisi dalam karya tari ini penata merangkai motif-motif gerak yang sudah ada kemudian dikembangkan lalu dirangkum menjadi satu hingga menjadi sebuah rangkaian tari yang berbentuk dan akhirnya menjadi sebuah bentuk garapan tari. Selain itu pula setidaknya peñata tari yang berbentuk dan akhirnya menjadi sebuah bentuk garapan tari. Selain itu pula setidaknya peñata tari sudah mempunyai bayangan tentang komposisi dan penempatan penarinya di atas panggung serta telah menggarap level dan tempo gerak tari tersebut. Satu hal yang jauh lebih penting yakni rasa, bagaimana peñata tari mampu mengeksplor kepekaan rasa para penarinya agar tarian tersebut bernyawa.

C. Metode dan Teknik Penggarapan
Sebuah garapan tari sudah tentu akan mendapatkan tantangan yang tidak terfikirkan sebelumnya,baik yang sifatnya teknis maupun non teknis. Berikut ini akan diuraikan hal-hal yang ditemukan dalam proses penggarapan:

1. Metode Penyampaian Konsep dan Tema Garapan
Penyampaian konsep dan tema garapan dilakukan sebelum awal pertemuan dilakukan, dimana peñata tari ingin mengangkat tema ritual namun belum mendapat konsep yang pasti, kemudian ingin mengangkat tema garapan Jalur Gaza karena saat itu lagi maraknya pemberitaan tentang penyerangan Israel ke Jalur Gaza yang memakan korban anak-anak yang berdosa, konsep Jalur Gaza dan tema garapan dikumpul kepada dosen pembimbing sebelum berangkat KKN,hal ini dimaksudkan agar sepulang dari KKN peñata tari tidak pusing lagi atau kelabakan lagi dalam mencari-cari konsep dan tema garapannya, dengan begitu peñata tari sudah tau apa yang akan di angkat dan dilakukan dalam karyanya nanti, namun setelah dari KKN konsep piñata berubah karena konsep Jalur Gaza terlalu berat untuk direalisasikan sehingga mengambil kesimpulan untuk mengangkat tema militerisme, dengan berjalannya proses pencarian gerak akhirnya bertolak dari gerak militerisme yang komikal dan kadang satire. Jadi berdasarkan konsep dan tema garapan inilah, maka penata tari akan berkreasi dan berimajinasi dalam menciptakan gerak hingga akhirnya dapat menghasilkan sebuah karya/ garapan tari yang dapat dipertanggung jawabkan originalitasnya.

2. Metode Pemberian Materi Garapan
Di dalam penyampaian materi garapan yang berupa gerak dilakukan secara bertahap. Dimulai dengan konsultasi konsep dan tema garapan pada dosen pembimbing, lalu setelah disetujui dilanjutkan dengan pencarian motif sebanyak-banyaknya, lalu kemudian dikembangkan dan setelah keseluruhan gerak selesai kemudian dirangkai menjadi satu garapan tari. Selanjutnya penerapan tarian kepada penari, disini peñata tari coba memilah-milah gerak tarian dengan maksudnya agar setiap gerak yang diberikan mudah dihafalkan dan dirasakan,sehingga sesuai sengan suasana yang didinginkan. Untuk mempermudah dalam memberikan materi gerak yang baru (Berlainan) harus ada waktu tertentu, sehingga pada saat tertentu pula dapat bersamaan dan menyesuaikan langsung dengan pola lantai.

3. Metode Teknik Evaluasi
a. Evaluasi Kemampuan Diri
Penggarapan karya tari ini tidak lepas dari lingkungan sekitar peñata tari yang mana dalam karya tari ini peñata mencoba menggarap sebuah karya yang mulanya ingin menggarap tentang tari ritual kemudian tari tentang Jalur Gaza namun terkendala sehingga menggarap tentang militerisme . Evaluasi kemampuan sangat menentukan sekali guna mengukur sejauh mana kemampuan peñata tari,mulai dari pencarian, penentuan, pengolahan gerak sampai pada pengajaran pada penari. Kemampuan dalam berkarya yang dimaksudkan di sini yakni peñata memperhatikan letak-letak kekurangan dan berusaha mencari jalan keluarnya dengan jalan konsultasi, baik dari segi teknis maupun dari segi non teknis.

b. Evaluasi Kemampuan Penari
Karya tari ini merupakan tari Kreasi berpijak dari gerak-gerak Komikal, dimana gerak komikal ini diambil dari gerak militerisme, maka butuh latihan yang ekstra bagi penari mengingat bahwa penari merupakan teman dan adik tingkat di Kampus dan termasuk Mahasiswa baru,peñata tari juga harus bisa berjuang keras dalam perbaikan teknik gerak dengan cara mengenal terlebih dahulu karakter penarinya masing-masing.Dan penarinya masing-masing dari Daerah yang berbeda jadi peñata agak kesulitan untuk memahami rasa dan karakter penari.

c. Evaluasi Bentuk
Langkah selanjutnya adalah evaluasi secara keseluruhan atau evaluasi bentuk. Langkah ini adalah untuk mengoreksi lebih lanjut gerak yang sedang dikembangkan. Banyak hal yang bisa saja terjadi dalam garapan tanpa diduga,misalnya penyimpangan-penyimpangan dari konsep, sehingga perlu dilakukan evaluasi sebagai hasil penyelesaian permasalahan, sehingga jadilah sebuah karya tari dengan bentuk komikal dan bisa juga menjadi satire.

d. Catatan Musik
1. bagian Introduksi pada Alat musik yang digunakan adalah Vokal,Tanjidor,Tambur,wauwau.
2. bagian Klimaks pada Alat musik yang digunakan adalah Tanjidor,Tambur,Katto-Katto,Recorder,Suara tokek,Vokal,botol,jimbe.
3. bagian Akhir pada Alat musik yang digunakan adalah Tanjidor,Tambur,Katto-Katto,Recorder,Vokal,botol,jimbe.

A. Diskripsi Istilah
Deskripsi dalam karya tari ini peñata mencoba menguraikan gerak-gerak yang mudah dibaca dan dimengerti kembali oleh peñata.Catatan dan uraian gerak ini sangat penting untuk arsip yang bertujuan agar dapat digunakan sebagai bahan perbandingan dalam penyempurnaan catatan gerak tari selanjutnya.
Penulisan diskripsi istilah ini diuraikan dengan keterangan gerak tari berupa istilah kode,gerak, level,dan arah hadap.
1. Istilah Dalam Tari
• Posisi Awal : Berlari
• Gerak 1 : Tiarap
• Gerak 2 : Siap
• Gerak 3 : Gerak Jalan
• Gerak 4 : Gerak senjata
2. Istilah Gerak Tari Pemusik
• Gerak tari pemusik pada bagian intro hanya memiliki satu ragam yaitu ragam jalan mengendap dan membungkuk sambil membawa alat music. Ragam dasar mengendap-endap memiliki banyak pengembangan variasi tempo melangkah di dalamnya.

Selain istilah di atas, dilengkapi pula dengan :
1. Kode Arah
a. : Jalan Biasa
b. : Lari kecil/Jalan jinjit
c. : Putar
d. : Kengser
2. Level
a. : Berlari
b. : Tiarap
c. : Berlutut
d. : Mengeper/Merendah
e. : Berdiri
3. Arah Hadap
a. : Ke depan
b. : Ke belakang
c. : Menyudut ke Kanan
d. : Menyudut ke kiri
e. : Ke atas
f. : Ke bawah
g. : Ke samping kanan
h. : Ke samping kiri

2. Uraian Gerak
Posisi awal adalah berlari masuk ke dalam pentas kemudian melakukan pose perang sampai dengan posisi tiarap.
1.( 4x8 ) : Tiarap sambil mengangkat kepala mengikuti musik,kemudian dua penari lainnya membalik badan sebelumnya berdiri ingin memukul penari yang lewat.
2. ( 4x8 ) : Kedua penari tangannya dibelakang kemudian digoyangkan kepala menghadap ke belakang dengan duduk posisi membungkuk, dua penari lainnya membungkuk dan perlahan bangun kemudian menngoyangkan tangannya di depan muka.
3. ( 4x8 ) : Perlahan lahan berdiri dengan tangan kanan memegang senapan dan menggaruk punggung memakai senapan dan selanjutnya di simpan di pundak kemudian melompat menghadap kepenonton,dan melakukan senapan di simpan di depan kaki kanan seperti gerakan siap.
4. ( 7x8 ) : Komandan pasukan masuk dari samping kanan panggung dengan kaki kanan diangkat lurus diikuti dengan kaki kiri,tangan kanan memegang tali senapan tangan kiri diayungkan kedepan dada kemudian lurus ke samping kiri dengan telapak tangan di kepal, kemudian memmeriksa dan memperbaiki sedangkan memasang senjata pasukannya,sedangkan para pasukan melakukan gerak bahu diangkat angkat ke atas dan kaki mengeper kekiri dan kekanan, satu penari diantarannya di balik kesamping kemudian komandan melakukan gerakan memutar tangan dan penari yang satu jalan kecil dengan kaki digesergeser sehingga kelihatan seperti boneka.
5. ( 6x8 ) : Penari dengan posisi badan mengeper ngeper tangan kanan memegang dibawah senapan yang digantungkan dipundak, tangan kiri disamping dikepal kemudian dilepas lagi seiring dengan kepala yang menoleh ke atas dan kesamping kiri, kemudian berputar ditempat sebanyak dua kali.
6. ( 6x8 ) : Posisi tangan kiri diayungkan kedepan tangan kanan tetap memegang senapan, kaki diangkat dimulai dari kaki kanan seiring dengan tangan kiri yang di ayungkan dengan posisi badan mengeper ngeper dengan pandangan kesamping dan kedepan.
7. ( 9x8 ) : Badan berdiri tegap kemudian tangan kiri memegang tali senapan untuk mengambil senapan di pundak kemudian dilepas dan senapan menghadap kedepan kesamping kemudian ke lantai dan kaki kanan diangkat dan senapan diangkat naik dan dipegang mulai dari tangan keatas samping kepala lurus kemudian ke samping kiri didekat perut kemudian didepan sedangkan kaki melangkah kesamping kekiri dan kanan maju mengikuti posisi yang akan dilakukan berikutnya gerakan ini dilakukan berulang ulang.
8. ( 6x8 ) : Berlari kemudian melakukan pose diam sejenak dan komandan memutar dibelakan penari seperti boneka dan ketika itu para penari jalan kecil kecil dan digeser kedepan dengan tangan memegang senapan kaki maju badan seperti tegang kemudian mengambil posisi berikutnya.
9. ( 3x8 ) : Posisi tangan kiri diayungkan kedepan dada kemudian lurus kedepan, kesamping, kebawah kaki diangkat mulai dari kaki kanan dan diikuti ole kaki kiri gerak ini seiring dengan gerakan tangan yang diayungkan dan senapan menghadap kedepan,kemudian senapan diangkat naik lurus ke samping dan kaki bergeser ke samping.
10. ( 3x8 ) : Posisi tangan kiri diayungkan kedepan dada kemudian lurus kedepan, kesamping, kebawah kaki diangkat mulai dari kaki kanan dan diikuti ole kaki kiri gerak ini seiring dengan gerakan tangan yang diayungkan kemudian senapan diangkat naik lurus ke samping dan kaki berjalan maju kedepan dan seperti gerak berbaris.
11. ( 4x8 ) : Posisi tangan kiri diayungkan kedepan dada kemudian lurus kedepan, kesamping, kebawah kaki diangkat mulai dari kaki kanan dan diikuti ole kaki kiri gerak ini seiring dengan gerakan tangan yang diayungkan dan senapan menghadap kedepan, kepala menghadap kedepan dan kesamping kiri diangguk anggukkan dangan posisi badan sedikit membungkuk.
12. ( 4x8 ) : Mundur kebelakang dimulai dari kaki kanan dan tangan memegang senapan yang mengadap ke samping dan pada hitungan kedelapan kaki kiri diangkat kesamping dan berteriak.
13. ( 4x8 ) : Posisi tangan kiri diayungkan kedepan dada kemudian lurus kedepan, kesamping, kebawah kaki diangkat mulai dari kaki kanan dan diikuti ole kaki kiri gerak ini seiring dengan gerakan tangan yang diayungkan dan senapan menghadap kedepan, kepala menghadap kedepan dan kesamping kiri dan diangguk anggukkan dangan posisi badan sedikit membungkuk dan tempo yang lambat.
14. ( 4x8 ) : Mundur kebelakang dimulai dari kaki kanan dan tangan memegang senapan yang mengadap ke samping dan pada hitungan kedelapan kaki kiri diangkat kesamping dan berteriak.
15. ( 4x8 ) : Posisi tangan kiri diayungkan kedepan dada kemudian lurus kedepan, kesamping, kebawah kaki diangkat mulai dari kaki kanan dan diikuti ole kaki kiri gerak ini seiring dengan gerakan tangan yang diayungkan dan senapan menghadap kedepan, kepala menghadap kedepan dan kesamping kiri dan diangguk anggukkan dangan posisi badan sedikit membungkuk dan tempo yang cepat dan gerak badan yang kaku.
16. ( 8x8 ) : Kaki kesamping kanan dan kiri, maju samping dan kemudian membentuk pose pose sedang menembak dan melangkah saat berhenti pundak naik turun,gerak ini dilakukan sebanyak tiga kali.
17. ( 3x8 ) : Kaki melakukan gerak kenser berputar , tangan memegang senjata kemudian berlari mengambil posisi pose sedang menembak kemudian membalik badan.
18. ( 4x8 ) : Kaki maju kedepan tangan kanan memegang senapan dan disimpan di atas pundak, kemudian kaki dan bahu berputar dan diankat naik dimulai dari kaki kanan kemudian kiri dan keduanya dan kaki dijinjit.
19. ( 4x8 ) : Tangan memegang senapan dan menghadap kesamping kiri, kepala ke kanan dan ke kiri kemudian kenser,dan kemudian siap dan balik ke belakang.
20. ( 3x8 ) : Diam sejenak kemudian kaki kanan dan ke kiri tangan kanan memegang senapan dan telapak tangan kiri menghadap ke atas gerak ini dilakukan berulang.
21. ( 14x8 ) : Posisi tangan kiri diayungkan kedepan dada kemudian lurus kedepan, kesamping, kebawah kaki diangkat mulai dari kaki kanan dan diikuti ole kaki kiri gerak ini seiring dengan gerakan tangan yang diayungkan dan senapan menghadap kedepan, kepala menghadap kedepan dan kesamping kiri diangguk anggukkan dangan posisi badan sedikit membungkuk.
22. ( 3x8 ) : Berlari keluar,kemudian masuk kembali dan berjejer dan senapan diangkat naik kemudian turun, ditiup ujungnya dan senapan kebawah dan diam, dagu diangkat naik kemudian selesai.

CATATAN MUSIK
Musik merupakan pelengkap dalam garapan tari. Musik yang akan mengiringi suatu karya tari (Tarian) yang disesuaikan dengan suasana apa yang akan ditampilkan dalam garapan tari tersebut. Mengingat karya tari yang berjudul “SELEBOR” merupakan tari kreasi yang berpijak dari gerak-gerak kontemporer yan lucu maka dari itu peñata tari menggunakan iringan musik, di antaranya sebagai berikut :
1. Tanjidor
2. Tambur
3. Simbal
4. Recorder
5. Katto-katto
6. Botol
7. Suara Tokek
8. Suara Air

Kesimpulan dan Saran
Dari hasil pembahasan karya naskah tari ini, maka peñata tari mengambil kesimpulan dan saran-saran sebagai berikut:
Kesimpulan :
1. Tahap-tahap penggarapan sebuah karya tari dari tahap-tahap eksplorasi,improvisasi,dan komposisi.
2. Untuk melestarikan suatu karya tari sangat dibutuhkan system pencatatan dan uraian tentang gerak tari yang pernah digarap masih dapat dikenali dan diingat melalui catatan gerak.
3. Menciptakan sebuah karya seni tari diperlukan berbagai aspek yang sangat berkaitan dengan yang lainnya. Dalam hal ini gerak, ruang,dan waktu, kostum dan musik pengiringnya, sehingga sebuah karya tari itu bisa dinikmati.
Saran-Saran :
Seorang koreografer jika ingin menggarap suatu karya haruslah mengetahui konsep dan tema apa yang ingin digarap tanpa itu karyanya akan sulit untuk dipahami nantinya.

DAFTAR PUSTAKA

Meri La. 1975, Elemen-Elemen Dasar Komposisi Tari, Yogyakarta : Lagaligo Fakultas Kesenian ISI.

Smith, Jachoulin.1985, Komposisi Tari Sebuah Petunjuk Praktis Bagi Guru
(Terjemahan Ben Soehart,S.ST), Yogyakarta: Ikalasti.

Atmadibrata, Enoch. 1985, Pendidikan Seni Tari SMTP, Bandung : Angkasa.

Edi Sedyawati 1983, Seni Dalam Masyarakat Indonesia, Jakarta : PT. Gramedia.

Lathief, Halilintar, Eksplorasi Seni Sastra, Tari, Musik, dan Teater, Makassar: Padat Daya: 2006

Lathief, Halilintar, Improvisasi Seni, Makassar: Padat Daya: 2006

DAFTAR PENDUKUNG TARI ( PENARI ) DAN PEMUSIK

Jumlah pendukung tari (Penari) dalam karya tari ini sebanyak 4 (empat) orang yaitu:
1. Anggrawansyah (Angga)
2. Purnomo (Nomo)
3. Zulfikar (Zul)
4. Hendra Gunawan (Igun)
5. Tri Adiguna (Teddy)
Jumlah pendukung musik ( Pemusik ) yaitu sebanyak 3 (tiga) orang yaitu :
1. Taufik (Dede)
2. Yusuf Sugiarto (Attho)
3. Frans Tupe (Tupe)
4. Jayanti (Jay)

SINOPSIS

S E L E B O R
Koreografer “ ANGGRAWANSYAH”

Selebor…..Selebor…….
Lima Onde Onde
Van der Basten……….Komandan……….

Van der Basten………. Van der Basten……….
Kapiten Bolang Boddong

BIOGRAFI SINGKAT

ANGGRAWANSYAH, dilahirkan di PAREPARE pada tanggal 14 Juni 1987, Merupakan anak ke-1 ( Satu ) dari 2 (Dua) Bersaudara ,pasangan Syaharuddin Nganro dan Hj.Nuraeni Garanti.

Pendidikan yang telah dilalui antara lain :
• Tamat di SD Negeri 102 Lappalappae Suppa Pinrang, pada tahun 1999
• Tamat dari SLTP Negeri 1 Suppa Pinrang, pada tahun 2002
• Tamat dari SMU Negeri 1 Suppa Pinrang, pada tahun 2005
Kemudian melanjutkan pendidikan di UNM pada Fakultas Seni dan Desain,Jurusan Pend.Sendratasik,bidang Study Seni Tari.

FOTO-FOTO

No comments:

Post a Comment